“Riuh Langkah”, Buku Antologi Cerpen Karya Santri MA Zaha 1 Genggong
Genggong – Sebuah karya tidak selalu lahir dari ruang yang besar. Di MA Zainul Hasan 1 Genggong, karya itu bermula dari lembaran kosong, pena, dan keberanian para santri untuk menuangkan cerita. Proses tersebut kini menghasilkan sebuah buku antologi cerpen berjudul “Riuh Langkah: Santri MA ZAHA 1 Genggong”.
Buku setebal 164 halaman yang terbit pada September 2026 itu menghimpun karya para santri MA Zaha 1 Genggong. Isinya beragam, mulai dari cerita tentang kehidupan pesantren, keluarga, cita-cita, persahabatan, perjuangan, hingga proses menemukan makna dalam perjalanan hidup.
Menariknya, buku tersebut tidak lahir sebagai proyek yang berdiri sendiri. Penerbitannya merupakan salah satu hasil dari Diklat Penulisan Buku yang digagas oleh pengurus OSIM MA Zaha 1 Genggong. Dalam prosesnya, para santri yang memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan mendapat ruang untuk mengasah kemampuan, mengembangkan ide, hingga mewujudkannya menjadi karya yang dapat dibaca orang lain.
Pembina OSIM MA Zaha 1 Genggong, Ustazah Najwan Nada, mengatakan bahwa penerbitan buku memang menjadi salah satu output dari program kepenulisan yang dijalankan OSIM.
“Salah satu program OSIM memang mengadakan diklat penulisan buku. Setelah itu, salah satu outputnya ya penerbitan buku ini,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut penting agar kegiatan literasi di madrasah tidak berhenti pada pelatihan. Para santri didorong untuk menghasilkan karya nyata dari pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan selama mengikuti diklat.
Hal itu terlihat dari isi Riuh Langkah. Buku tersebut memuat puluhan tulisan santri dengan tema dan gaya yang beragam. Di antaranya Cahaya di Atas Kitab yang Berdebu karya Horiya, Di Antara Rindu dan Cita-Cita karya Zaskia Dwi Oktavia, Preman Pondok karya Ika Lestari, Aku Mondok? karya Natasya Agustina Putri, hingga sejumlah cerita lain tentang keluarga, kedewasaan, cita-cita, dan kehidupan santri.
Kehidupan pesantren bahkan menjadi salah satu warna kuat dalam antologi tersebut. Melalui cerita-cerita yang ditulis, para santri tidak hanya menghadirkan fiksi, tetapi juga merekam cara mereka memandang kehidupan, hubungan dengan orang tua, perjuangan belajar, persahabatan, serta pengalaman menjalani kehidupan di pesantren.
Kepala MA Zainul Hasan 1 Genggong, Nun Ahsan Maliki, S.Sy., M.Pd., memberikan apresiasi atas terbitnya karya tersebut. Ia menilai keberagaman tulisan dalam Riuh Langkah menunjukkan bahwa dunia santri memiliki cakrawala yang luas dan kreativitas yang terus berkembang.
“Apa yang tertulis di sini adalah bukti bahwa kreativitas santri kita terus bersemi, seirama dengan tradisi literasi yang senantiasa kita jaga dan rawat bersama,” tulis Nun Alex.
Beliau juga berharap karya tersebut tidak berhenti sebagai sebuah buku, tetapi dapat menjadi pemantik bagi lahirnya karya-karya berikutnya dari lingkungan madrasah.
Sementara itu, proses penerbitan buku juga melibatkan kerja bersama antara para kontributor santri dan pengurus OSIM. Dalam catatan redaksi disebutkan bahwa pengurus OSIM turut mengoordinasikan pengumpulan naskah dan mengawal prosesnya hingga buku tersebut selesai.
Bagi MA Zaha 1 Genggong, Riuh Langkah menjadi salah satu bukti bahwa tradisi literasi dapat tumbuh berdampingan dengan kehidupan akademik dan kepesantrenan. Para santri tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga mulai belajar menulis buku dan meninggalkan karya yang dapat dibaca oleh generasi setelahnya.
Dari lembaran kosong, lahir cerita. Dari cerita, lahir buku. Dan dari buku itulah, langkah para santri MA Zaha 1 Genggong kini terdokumentasikan dalam “Riuh Langkah.”



