Logo

Info Kegiatan

Debat Kandidat Ketua OSIM, MA Zaha 1 Genggong Praktikkan Demokrasi Lewat E-Voting

Genggong – Enam kandidat Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MA Zainul Hasan 1 Genggong beradu gagasan dalam debat kandidat yang digelar pada Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pemilihan Ketua OSIM yang tahun ini dilaksanakan dengan sistem electronic voting (e-voting).

Debat berlangsung secara bersamaan di dua lokasi berbeda. Kandidat dan santri putra mengikuti debat di Aula Rushaifah, sementara santri putri mengikuti kegiatan di halaman Pesantren Zainul Hasan Genggong. Pemisahan lokasi tersebut menyesuaikan pelaksanaan kegiatan putra dan putri di lingkungan madrasah.

Masing-masing terdapat tiga kandidat yang maju dalam pemilihan Ketua OSIM. Untuk putra, kandidat nomor urut 1 Alfa Bashori, nomor urut 2 Zainal Abidin, dan nomor urut 3 Alif Ayatullah Al Bairuni. Sementara kandidat putri terdiri dari nomor urut 1 Nadira Putri Utami, nomor urut 2 Rifka Firduana Mauludiah, dan nomor urut 3 Rahadatul 'Aisy Yusma.

Dalam debat tersebut, para kandidat memaparkan visi dan misi yang mereka tawarkan di hadapan para pemilih. Mereka juga mendapat pertanyaan dari panelis, yakni Ustaz Mohammad Hendra, M.Pd. dan Ustaz Agus Surahman, S.Si.

Forum debat tidak hanya menjadi ruang bagi para kandidat untuk menyampaikan program. Para santri juga diajak melihat proses pemilihan pemimpin sebagai bagian dari pembelajaran organisasi dan demokrasi di lingkungan madrasah.

Pembina OSIM MA Zaha 1 Genggong, Ustazah Najwan Nada, S.Sos., mengatakan bahwa proses tersebut merupakan latihan bagi para santri untuk menjadi warga negara yang baik dan memahami praktik demokrasi sejak di lingkungan madrasah.

“Ini bagian dari latihan menjadi warga negara yang baik dalam berdemokrasi. Satu suara itu berharga. Jadi, pilihlah bukan karena kedekatan, tetapi karena gagasan dan visi yang ditawarkan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pemilihan Ketua OSIM. Para santri tidak hanya diperkenalkan pada proses mencoblos atau memilih, tetapi juga diarahkan untuk mempertimbangkan gagasan, visi, dan program yang dibawa masing-masing kandidat.

Usai debat, proses pemilihan Ketua OSIM dilaksanakan pada hari yang sama dengan menerapkan sistem e-voting. Para pemilih tidak lagi menggunakan surat suara berbahan kertas. Pilihan disampaikan melalui sistem elektronik yang telah disiapkan oleh panitia.

Penggunaan e-voting menjadi bagian dari upaya MA Zaha 1 Genggong memanfaatkan teknologi dalam kegiatan organisasi siswa. Proses pemilihan tetap menempatkan suara santri sebagai bagian utama, namun mekanisme pemungutan suara dibuat lebih praktis dengan memanfaatkan sistem digital.

Dengan enam kandidat yang membawa gagasan masing-masing, pemilihan Ketua OSIM tahun ini sekaligus menjadi ruang bagi para santri untuk belajar bahwa demokrasi bukan hanya tentang menentukan siapa yang terpilih, tetapi juga tentang menyampaikan gagasan, mendengar pilihan orang lain, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.