Logo

Info Kegiatan

MA Zaha 1 Genggong Konsisten Gunakan E-Voting dalam Pemilihan Ketua OSIM

Genggong – Digitalisasi tidak hanya diterapkan dalam proses pembelajaran dan administrasi di MA Zaha 1 Genggong. Dalam urusan demokrasi Santri, madrasah juga telah menerapkan sistem electronic voting (e-voting) untuk Pemilihan Ketua OSIM (Orgasinasi Santri Intra Madrasah). Tahun 2026 ini menjadi tahun kelima sistem tersebut digunakan.

Pemilihan Ketua OSIM tahun ini berlangsung setelah para kandidat menyampaikan visi dan misi dalam debat kandidat. Setelah itu, para santri menggunakan hak pilihnya melalui perangkat elektronik yang telah disiapkan panitia.

Untuk mendukung proses pemungutan suara, MA Zaha 1 Genggong menyediakan 20 unit laptop sebagai sarana e-voting. Santri tidak lagi menggunakan surat suara berbahan kertas, melainkan memilih kandidat melalui sistem digital yang telah disiapkan.

Kepala MA Zaha 1 Genggong, Nun Ahsan Maliki, S.Sy., M.Pd., mengatakan penerapan e-voting yang telah memasuki tahun kelima menunjukkan komitmen madrasah dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam berbagai aktivitas pendidikan dan organisasi.

“Tahun ini adalah tahun kelima kita menerapkan e-voting. Untuk pemilihan kali ini, kita menyediakan sarana 20 laptop,” ungkap Nun Alex.

Menurutnya, pemilihan Ketua OSIM bukan hanya agenda pergantian kepengurusan. Proses tersebut menjadi ruang pembelajaran demokrasi bagi para santri, sekaligus mengenalkan bagaimana teknologi dapat digunakan dalam proses pemilihan yang transparan.

Nun Alex berharap praktik demokrasi yang berlangsung di lingkungan madrasah tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi para santri tentang pentingnya menjaga integritas dalam sebuah pemilihan.

“Saya berharap demokrasi kecil ini menjadi motivasi dan memberi contoh kepada negara bahwa dalam sebuah pemilihan tidak boleh ada praktik kecurangan,” tegasnya.

E-Voting Menjadi Bagian dari Ekosistem Digital MA Zaha

Penerapan e-voting ini juga memperkuat arah digitalisasi yang selama ini dikembangkan MA Zaha 1 Genggong. Teknologi tidak berhenti pada penggunaan perangkat dalam pembelajaran, tetapi mulai menjadi bagian dari berbagai aktivitas madrasah, termasuk organisasi dan partisipasi siswa.

Dengan menyediakan perangkat secara terpusat, proses pemilihan dapat dilakukan secara digital tanpa kebutuhan surat suara fisik. Para santri juga mendapatkan pengalaman langsung menggunakan teknologi untuk menjalankan salah satu proses penting dalam organisasi siswa.

Bagi MA Zaha, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pendidikan yang lebih luas. Santri tidak hanya belajar mengenai demokrasi secara teori, tetapi mengalaminya secara langsung: mengenal kandidat, menyimak gagasan, menentukan pilihan, kemudian menggunakan hak suara melalui sistem digital.

Nun Alex juga menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua OSIM terpilih. Beliau berharap amanah tersebut tidak hanya dipandang sebagai posisi organisasi, tetapi sebagai ruang pengabdian di lingkungan madrasah.

“Saya ucapkan selamat kepada Ketua OSIM terpilih. Jadikan ini sebagai lahan pengabdian,” pesannya.

Ia juga memastikan madrasah akan mendukung program-program OSIM yang lahir melalui proses musyawarah.

“Apapun project OSIM yang dimusyawarahkan, sekuat tenaga kami akan fasilitasi,” lanjutnya.

Selain program organisasi dan digitalisasi, Nun Alex menitipkan satu hal yang menurutnya tidak boleh luput dari perhatian pengurus OSIM dan seluruh santri, yakni kebersihan lingkungan madrasah.

“Saya titip juga kebersihan, karena kebersihan adalah ikon,” pungkasnya.

Dengan memasuki tahun kelima, e-voting MA Zaha 1 Genggong menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang ditempatkan langsung dalam kehidupan organisasi santri. Digitalisasi di madrasah pun tidak hanya berbicara tentang aplikasi dan perangkat, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk membangun pengalaman belajar yang nyata bagi santri.