Logo

Info Kegiatan

Nun Alex Kenang Ustaz Aziz sebagai Pejuang Pendidikan Genggong

Genggong – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pesantren Zainul Hasan Genggong. Prof. Dr. Assoc. Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab, BA., M.Ag., CH., CHT., Rektor UNZAH Genggong, Kepala Biro Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong, sekaligus Ketua Umum DPP TANASZAHA Genggong, wafat pada Senin, 28 September 2026, bertepatan dengan 16 Rabiul Akhir 1448 H.

Kepergian Ustaz Aziz meninggalkan kenangan mendalam bagi banyak orang yang pernah berinteraksi dan belajar langsung dari beliau. Salah satunya Kepala MA Zaha 1 Genggong, Nun Ahsan Maliki, S.Sy., M.Pd., yang mengenal almarhum sejak dirinya masih menjadi santri dan siswa di MTs Zainul Hasan.

Nun Alex mengingat, sekitar 1996 dirinya masuk MTs Zainul Hasan. Saat itu, Almarum KH..Moh. Hasan Saiful Islam dipercaya sebagai kepala madrasah, sementara Ustaz Aziz menjadi wakil kepala. Namun, menurut Nun Alex, sejak awal Ustaz Aziz memiliki peran besar dalam memimpin dan mengawal pendidikan di madrasah.

“Pak Aziz adalah guru saya. Beliau juga mengajar saya, kemudian menjadi kepala saya selama dua tahun, saat saya kelas satu dan kelas dua. Kelas tiga saya pindah ke Lirboyo,” kenangnya.

Pengalaman sebagai murid itulah yang membuat Nun Alex memiliki kesan khusus terhadap sosok Ustaz Aziz. Baginya, almarhum merupakan salah satu figur yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan pengabdian di Pesantren Zainul Hasan Genggong.

“Kalau saya melihat sosok Bapak Abdul Aziz, beliau adalah pejuang pendidikan. Beliau dipercaya oleh Kiai dalam mengatur pendidikan di Pesantren Zainul Hasan,” ungkapnya.

Terus Mengawal Pendidikan Genggong

Dedikasi tersebut, kata Nun Alex, bahkan terus terlihat hingga akhir hayat almarhum. Di tengah kesibukan memimpin UNZAH dan menjalankan berbagai amanah organisasi, Ustaz Aziz masih menyempatkan diri untuk turun dan memberikan perhatian terhadap perkembangan pendidikan di MA Zaha 1 Genggong.

“Beliau sering turun ke madrasah. Di tengah banyaknya jadwal beliau, masih menyempatkan diri untuk mengawal MA Zaha. Mulai dari pendidikan bahasa, kemudian manajemen pendidikan, sampai manajemen sistem yang ada di MA Zaha, semuanya dikawal oleh beliau,” tuturnya.

Hubungan komunikasi keduanya juga terus terjalin. Setiap kali MA Zaha memiliki perkembangan maupun program baru, Nun Alex mengaku kerap menyampaikannya kepada Ustaz Aziz untuk mendapatkan masukan.

“Saya sering konsultasi dengan beliau terkait apa yang ada di MA. Setiap ada kemajuan dan setiap ada program-program baru, saya sampaikan kepada beliau,” lanjutnya.

Bagi Nun Alex, perhatian Ustaz Aziz terhadap pendidikan tidak berhenti pada satu lembaga. Amanah yang beliau emban begitu banyak, mulai dari UNZAH, Biro Pendidikan Pesantren, Tanaszaha, hingga organisasi kemasyarakatan seperti NU dan MUI.

Di bidang pendidikan tinggi, kiprah almarhum salah satunya tercatat saat dipercaya memimpin STAI Zainul Hasan pada periode 2013–2014. Di bawah kepemimpinannya, STAI Zaha kemudian naik status menjadi Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan (INZAH) pada 14 April 2014. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga berkembang menjadi Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong.

Hingga akhir hayatnya, Ustaz Aziz tetap dipercaya sebagai Rektor UNZAH Genggong. Di luar kampus, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Pimpinan (Forpim) PTKIS Kopertais Wilayah IV Jawa Timur, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo periode 2025–2029, Kepala Biro Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong, Wakil Ketua MUI Kabupaten Probolinggo, serta Wakil Ketua PCNU Kota Kraksaan.

Bagi Nun Alex, banyaknya amanah tersebut tidak membuat almarhum mengurangi khidmahnya. Ia justru mengenang Ustaz Aziz sebagai sosok yang tetap bekerja dan mengabdi tanpa banyak mengeluh.

“Banyak perjuangan beliau untuk Pesantren Zainul Hasan. Beliau termasuk orang yang khidmahnya tidak kenal lelah, tidak pernah mengeluh,” katanya.

Bahkan, kenangan terakhir Nun Alex bersama Ustaz Aziz dalam agenda Tanaszaha adalah ketika almarhum mengawal kegiatan ke Bali, sekitar bulan Januari. “Walaupun kegiatannya banyak, terutama di UNZAH sebagai rektor, beliau betul-betul mengawal dengan baik. Jasanya banyak, perjuangannya juga besar,” ujarnya.

Meninggalkan Warisan Manajemen Pendidikan

Nun Alex juga menilai salah satu warisan penting Ustaz Aziz adalah sistem manajemen yang dibangun dalam pengelolaan pendidikan, baik di Biro Pendidikan Pesantren maupun Tanaszaha.

“Manajemen yang dibangun oleh beliau di tingkat Biro Pendidikan UNZAH dan Tanaszaha itu sudah sangat tertanam, terutama manajemen pendidikan,” ungkapnya.

Kenangan serupa disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH., MM. Ia menyebut Ustaz Aziz sebagai salah satu tokoh yang meneruskan perjuangan para muassis dan banyak membantu dalam perjalanan pengembangan pesantren.

“Saya mengakui bahwa beliau adalah tokoh pejuang penerus perjuangan para muassis. Beliau banyak membantu saya,” tuturnya.

Jejak pengabdian Ustaz Aziz pun kini menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan Genggong. Dari madrasah, Biro Pendidikan Pesantren, Tanaszaha, hingga perguruan tinggi, pemikiran dan kerja beliau telah ikut membentuk sejumlah sistem yang masih berjalan hingga kini.

Bagi keluarga besar MA Zaha 1 Genggong, kehilangan Ustaz Aziz bukan hanya kehilangan seorang pimpinan atau tokoh pendidikan. Bagi Nun Alex secara pribadi, kepergian tersebut juga menjadi kehilangan seorang guru yang pernah mendidiknya dan kemudian menjadi salah satu tempatnya berkonsultasi dalam mengembangkan madrasah.

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada beliau atas segala pengorbanannya. Jasa beliau tak akan tergantikan,” ujar Nun Alex.

Ia pun menutup kenangannya dengan doa untuk almarhum. “Semoga amal ibadahnya diterima, dosa-dosanya diampuni, serta dipertemukan dengan gurunya di surga Allah. Amin.”